
Seru dan Penuh Kreasi! Siswa Kelas 5 Belajar Membatik dari Canting hingga Pewarnaan dalam Dua Pertemuan
Petukangan, 4 Mei 2026 — Siswa-siswi kelas 5 melaksanakan kegiatan kokurikuler berupa pembelajaran membatik yang berlangsung selama dua pertemuan. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang menarik sekaligus bermakna, karena siswa terlibat langsung dalam setiap tahapan proses membatik.
Pertemuan pertama dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, bertempat di Pendopo Gemah Semilir Petukangan. Kegiatan diawali dengan pengarahan dari wali kelas sebagai bentuk pembekalan awal kepada siswa. Setelah itu, setiap siswa menerima kaos polos yang digunakan sebagai media praktik.
Pada kegiatan inti, siswa dibimbing langsung oleh pengrajin batik yang memberikan arahan teknis secara bertahap. Siswa mulai mencap kaos menggunakan canting dan malam secara bergantian. Selanjutnya, mereka menuliskan nama masing-masing pada kaos menggunakan canting dan malam. Setelah proses tersebut, siswa melakukan pewarnaan (nyolet) sesuai kreativitas masing-masing, kemudian menjemur hasil karya hingga kering.
Kegiatan dilanjutkan pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026. Pada tahap ini, siswa mempelajari proses lanjutan membatik. Kain terlebih dahulu dicuci bersih untuk menghilangkan kanji agar warna dapat meresap dengan maksimal. Selanjutnya, kain dicelupkan ke dalam larutan warna, yang dalam proses membatik dikenal dengan istilah mbabar. Proses pencelupan dilakukan berulang kali untuk menghasilkan warna yang lebih pekat.
Tahap berikutnya adalah fiksasi, yaitu merendam kain dalam larutan pengunci seperti waterglass atau tawas agar warna tidak mudah luntur. Setelah itu, kain dijemur hingga kering. Adapun proses terakhir dalam membatik, yaitu nglorot (merebus kain dalam air panas untuk menghilangkan malam/lilin), tidak dilakukan langsung oleh siswa. Proses tersebut dilanjutkan oleh pengrajin batik karena melibatkan air mendidih yang cukup berisiko, serta harus menunggu kain benar-benar kering terlebih dahulu.
Kepala MIM Kauman, Muhammad Sukron, S.Pd.I, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. “Melalui pembelajaran membatik, siswa tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya bangsa sejak dini. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Wali kelas 5 yang juga menjadi pendamping, Nok Idah, S.Pd.I, menuturkan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. “Anak-anak terlihat sangat antusias dari awal hingga akhir. Mereka bisa belajar langsung dari pengrajin, sekaligus mengekspresikan kreativitas mereka melalui karya masing-masing,” jelasnya.
Salah satu siswa kelas 5, Roziq Hanan Ardiansyah, juga mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan ini. “Saya senang sekali bisa belajar membatik. Awalnya sulit, tapi lama-lama jadi seru, apalagi saat mewarnai. Saya bangga dengan hasil karya saya sendiri,” katanya dengan penuh semangat.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan wali kelas dan guru pendamping. Secara keseluruhan, pembelajaran membatik ini memberikan pengalaman berharga bagi siswa dalam mengenal warisan budaya bangsa sekaligus mengasah kreativitas mereka melalui karya seni.



